TJKPD Temukan Makanan Mengandung Bahan Berbahaya Rhodamin B

  • Share

CILACAP, MEDGO.ID – Tim Jejaring Keamanan Pangan Daerah (TJKPD) Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, yang terdiri atas Dinas Pangan dan Perkebunan, Dinas Komunikasi dan Informasi, Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan dan Loka POM Banyumas, melakukan inspeksi mendadak (sidak) pengawasan produk makanan.

Sidak digelar mulai hari Selasa 8 Desember hingga Rabu 16 Desember 2020, di sejumlah pasar tradisional dan pasar swalayan yang ada di wilayah Kabupaten Cilacap.

Pengawasan terhadap produk makanan ini dilakukan untuk memastikan keamanan produk pangan yang dijualbelikan oleh pedagang kepada konsumen, baik produk pangan olahan maupun produk pangan segar.

Demikian yang disampaikan oleh Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap Agus Priharso, seperti dikutip dari RRI.co.id, Sabtu (19/12/2020).

Agus Priharso menyampaikan bahwa TJPKD masih menemukan makanan yang beredar di pasaran yang mengandung bahan berbahaya seperti Rhodamin B, di sejumlah pasar tradisional serta menemukan makanan yang tidak memiliki izin edar.
Rodhamin B adalah zat pewarna tekstil yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Sedikitnya ada delapan temuan panganan yang mengandung bahan berbahaya Rodhamin B, antara di produk makana karag atau gendar, kerupuk soto, kue kering bolu emprit, kue gabus kembang, krupuk pilus pedas, kerupuk pilus warna warni, dan jipang beras”, ujar Agus.

Makanan tersebut, lanjut Agus, masih ditemukan di sejumlah pasar di Cilacap seperti di Pasar Wanareja, Majenang, Kroya, dan Pasar Tanjungsari. Selain itu, ditemukan juga produk makanan yang belum memiliki izin edar, seperti produk kacang hijau, kacang tanah dan rempah-rempah produk makanan beku maupun produk bakso kemasan.

Sementara itu, Kepala Loka POM Banyumas Suliyanto mengatakan kepada para pedagang agar makanan yang mengandung Rodhamin B untuk dikembalikan ke penyalur atau dimusnahkan.
“Untuk itu, kepada masyarakat saya sarankan agar tidak membelinya lagi dan makanan yang tidak memiliki izin edar untuk diganti dengan pangan yang sudah memiliki izin”, pungkas Suliyanto. (*).
Pewarta: Adang.

 

  • Share
Exit mobile version