Pudjo, Inisiator Penangkaran Burung Hantu Dari Desa Tlogoweru

  • Share

DEMAK, MEDGO.ID – Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, adalah sebuah desa dimana kehidupan warganya sangat tergantung dari sektor pertanian.

Hama tikus yang sering menyerang tanaman padi maupun palawija milik para petani, menjadi penyebab utama gagalnya panen.

Melihat kondisi tersebut, Pudjo Arto, seorang warga Desa Tlogoweru, menjadi inisiator untuk memanfaatkan burung hantu untuk menjadikannya sebagai predator atau pemangsa alami hama tikus.

Setelah melalui riset, akhirnya Pudjo Arto berketetapan hati untuk menangkarkan burung hantu spesies Tyto Alba di Desa Tlogoweru.
Pada tahun 2010 Pudjo memulai usaha penangkaran burung hantu tersebut dan berselang waktu sekitar satu tahun, tepatnya pada tahun 2011, usaha Pudjo sudah mulai terlihat hasilnya.

Pudjo Arto, Inisiator Penangkaran Burung Hantu Dari Desa Tlogoweru. (Dok. foto: Pudjo).

Kemudian, lanjut Pudjo, pada tahun 2011 kita juga membuat pendukung-pendukungnya untuk pelestarian pengembangan. Dan pada 2012, Desa Tlogoweru sudah dikenal oleh daerah lain sebagai desa percontohan.

“Banyak warga dari daerah lain yang datang ke Desa Tlogoweru untuk menimba ilmu bagaimana cara penangkaran dan pengelolaan Tyto Alba sebagai predator tikus”, kata Pudjo, Sabtu (19/6/2021). Dilansir dari rri.co.id.

Pudjo menambahkan bahwa burung hantu tidak dikarantina tapi dibebasliarkan di alam, hanya difasilitasi dengan pembuatan rubuha atau rumah burung hantu, yang ditempatkan di areal persawahan tempat burung hantu memerangi hama tikus.

“Di Desa Tlogoweru sejauh ini terdapat sekitar 250 rumah burung hantu yang tersebar di sekitar 225 hektare sawah warga dan terus mengalami perkembangan”, tutur Pudjo.

Dengan pemanfaatan burung hantu Tyto Alba, lanjut Pudjo, hama tikus menurun cukup drastis dan sebagai imbasnya adalah produksi pertanian khususnya padi meningkat secara signifikan.

“Kami juga membentuk sebuah tim pengembangan yang diberi nama tim “Tyto Alba” yang bertujuan untuk memberi edukasi bagi masyarakat ataupun berbagai instansi yang melakukan studi banding pemberdayaan burung hantu di sektor pertanian”, ungkap Pudjo.

Atas inisiatif Pudjo dengan Kelompok Tani Tulodho Makaryo dan Kepala Desa Tlogoweru, Soetodjo, selain berdampak positif pada kondisi pertanian di Desa Tloweru, datangnya warga dari daerah lain yang ingin menimba ilmu tentang penangkaran Tyto Alba, ternyata berimbas pada sektor lain yaitu sektor pariwisata yang berdampak adanya peningkatan perekonomian warga Desa Tlogoweru. (*).

  • Share
Exit mobile version