Perajin Tempe Di Kabupaten Batang: Pemerintah Tidak Usah Beri Subsidi Harga Kedelai

  • Share

Batang, medgo.id – Para perajin tempe di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terkena imbas atas melambungnya harga kedelai yang merupakan bahan baku utama pembuatan Tempe.

Untuk tetap bertahan dan tetap bisa memproduksi tempe maka sebagian besar dari para perajin tempe tersebut mengharuskannya mengurangi ukuran, meskipun hal tersebut diprotes oleh sebagian konsumen.

\

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang, Dewi Wuriyanti, Senin (14/11/2022), mengatakan bahwa sejak tahun 2022, harga kedelai terus merangkak naik. Pada awal Januari 2022 harganya Rp. 13.500 per kilogram dan sekarang sudah mencapai Rp. 13.800 per kilogram.

“Untuk mengatasi lonjakan harga kedelai yang tidak juga kunjung turun, rencananya pihak Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jawa Tengah, segera menggelontorkan bantuan kepada perajin tempe, terutama bagi mereka yang tidak tergabung dalam Koperasi Perajin Tempe”, kata Dewi.

Bantuan yang diberikan, lanjut Dwi, yaitu sebanyak satu ton kedelai untuk setiap kabupaten/kota yang diperuntukkan bagi 100 perajin.
Karena di Kabupaten Batang ada 130 perajin, imbuh Dewi, maka dalam penyalurannya akan diseleksi agar tepat sasaran.

“Kemungkinan program bantuan kedelai akan digelontorkan pada awal Desember 2022 mendatang, dan pendistribusian rencananya akan dilakukan langsung kepada perajin di Kantor Dispaperta”, pungkas Dewi.

Sementara itu, salah seorang perajin tempe, Priyatno, warga Proyonanggan, Kecamatan Batang, mengungkapkan bahwa semenjak adanya kenaikan kedelai pada beberapa bulan terakhir, telah berdampak terhadap menurunnya pendapatan karena berkurangnya konsumen yang membeli.

salah seorang perajin tempe, Priyatno, warga Proyonanggan, Kecamatan Batang. (Dok. foto: IST).

“Sebelum adanya kenaikan harga kedelai, konsumen bisa pesan antara 4 sampai 6 papan tempe tapi hanya pesan 4 hingga 5 papan per hari”, tandas Prayitno.

Untuk harga kedelai, Prayitno mengatakan bahwa sebelumnya dirinya bisa membeli dengan harga Rp. 7 ribu sampai Rp. 8 ribu per kilogram tapi saat ini Rp.14 ribu per kilogramnya sehingga omsetnya juga merosot tajam. Yang semula Rp. 250 ribu sampai Rp. 300 ribu, sekarang hanya Rp. 150 ribu untuk sekali produksi.

“Pemerintah tidak usah memberi subsidi pada harga kedelai tapi ditentukan saja patokan harga kedelai per kilogramnya misalnya Rp. 8 ribu atau Rp. 10 ribu”, pungkas Prayitno. (*17).

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *