Pameran Keris Peradaban Nusantara Di Candi Sukuh

  • Share

Surakarta, medgo.id – Bertempat di kawasan Candi Sukuh, Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Yayasan Surya Candra Kartika akan menyelenggarakan perhelatan berupa Pameran Keris Peradaban Nusantara pada 1-2 Oktober 2022.

Rangkaian kegiatan antara lain dimulai dari Pameran Pusaka Primitif Bursa keris 25 meja, diskusi, kirab, dan do’a bersama di petilasan Empu Supo Sidikara atau Pasupati Pusaka.

Kegiatan tersebut mendapatkan perhatian dan apresiasi dari Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), Dr. BRM. Kusumo Putro S.H, M.H.

Dalam keterangan tertulisnya kepada medgo.id, Senin (26/9/2022) malam, BRM Kusumo Putro mengatakan bahwa diselenggarakannya Pameran Keris Peradaban Nusantara di kawasan Candi Sukuh adalah sebuah langkah yang tepat karena pada pahatan di dinding Candi Sukuh memuat relief pembuatan keris.

Lebih jauh, Kusumo memaparkan bahwa pameran keris tidak hanya sebagai sarana bagi para pegiat budaya untuk memperkenalkan mahakarya para empu kepada para generasi muda, namun juga untuk mengajak insan perkerisan memberikan edukasi melalui diskusi budaya. Keris tidak hanya sekedar mahakarya, namun terkandung di dalamnya sebuah filososi dan kebudayaan spiritualnya.

Candi Sukuh. (Dok. foto:kusumo)

“Keris, tidak hanya memiliki makna keagungan dari sebuah karya cipta, akan tetapi lebih dari itu. Beberapa unsur logam menyatu dalam sebuah wujud yang berupa keris. Oleh sebab itu kekuatan keris tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya saja tapi di dalamnya juga terdapat energi non fisik yang tidak terlihat yang melebihi kekuatan lahiriahnya”, papar Kusumo.

Unesco sendiri mengakui, lanjut Kusumo, bahwa nilai karya cipta budaya yang ada di dalam keris salah satunya adalah keyakinan sehingga keris diakui sebagai seni tertinggi dalam karya logam warisan budaya Nusantara.

“Saya berharap, acara tersebut dapat digelar secara di berbagai kota dan Kabupaten, dengan tujuan agar generasi muda semakin mengenal dan mencintai budayanya sendiri, tanpa mengenal kelebihanya, mustahil mereka akan mencintai budayanya sendiri”, tandas Kusumo.

Agar event kebudayaan Nusantara dapat terus digelar dan lestari budayanya, pungkas Kusumo, maka dukungan dan peran dari pemerintah bersama para pelestari budaya memiliki andil yang sangat penting dan besar.

Sekilas tentang keris
Keris merupakan senjata tikam golongan belati yang berasal dari Jawa, yang memiliki ragam fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.
Bentuknya yang khas sehingga mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris. Di bagian pangkal yang melebar, sering kali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah.

Pada zaman dahulu, keris digunakan sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus benda pelengkap sesajen. Namun kini, keris juga menjadi salah satu aksesoris dalam berbusana, simbol kecerdikan budi, atau menjadi benda koleksi yang dilihat estetikanya.

Keris Indonesia kini telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Kecerdikan Budi Dunia Non-Bendawi Manusia sejak tahun 2005 yang lalu.

Bagaimana Asal Muasal Keris.
Menurut buku Keris dalam Perspektif Keilmuan terbitan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2011, menyatakan bahwa sejarah keris belum diketahui secara pasti.

Meskipun nenek moyang Jawa umumnya beragama Hindu dan Budha, tapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa budaya keris berasal dari India atau negara lain, dan tidak ada juga bukti yang berkaitan langsung antara senjata tradisional keris dengan agama Hindu dan Budha.

Bentuk keris yang dikenal saat ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10, menyebar dari pulau Jawa ke beberapa daerah seperti ke Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, sebagian Sulawesi, Malaysia, Brunei, Thailand Selatan, Filipina Selatan, dan lain-lain. (*17).

  • Share
Exit mobile version