Lakon Babad Alas Wanamarta Sambut Tahun Baru Hijriyah 1444

  • Share

Kendal, medgo.id – Pemerintah Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Jum’at (29/7/2022) malam, di Lapangan Desa Purwokerto, menggelar pentas seni budaya wayang kulit.

Kepala Desa Purwokerto, Suprapto, mengatakan bahwa pagelaran wayang kulit tersebut dalam rangka menyambut pergantian tahun baru 1 Muharram 1444 Hijriyah, sedekah desa, dan mangayu bagyo Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-417 tahun 2022.

“Penyelenggaraannya sudah melalui musyawarah dengan pengurus RT dan RW serta tokoh masyarakat Desa Purwokerto”, kata Suprapto.

Pagelaran wayang kulit tersebut juga disaksikan oleh Sekretaris Dinas Kominfo Kabupaten Kendal, Dwi Cahyo S, anggota DPRD Kendal, H. Tardi, dan Kapolsek Patebon, AKP Miyardi.

Pagelaran yang merupakan kolaburasi dari dua orang dalang lokal yaitu Ki Jatmiko asal Desa Purwokerto, Kecamatan Patebon, dan Ki Jumadi asal Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal, Kabupaten Kendal, menyuguhkan cerita atau lakon Babad Alas Wanamarta.

Dalam kisah Babad Alas Wanamarta tersebut, terkandung hikmah bahwasanya kebenaran itu akan mengalahkan angkara murka dan kedzaliman, meski pada awalnya kebenaran itu terpuruk hingga pada titik yang paling dalam.

Alur cerita Babad Alas Wanamarta
Kisah Babad Alas Wanamarta, berawal dari kisah Bale Sigala-gala, yang memaparkan tentang ambisi, keculasan dan kelicikan dari seorang patih bernama Sengkuni atau Harya Suman, dalam usahanya untuk melanggengkan kekuasaan Kerajaan Hastinapura dan hendak melenyapkan atau membunuh seluruh keluarga Pandawa yaitu Puntadewa (Yudisthira), Harjuna, Nakula, Sadewa, dan Bima atau Werkudara, serta Dewi Kunti (Ibunda dari Pandawa).

Kilas balik Bale Sigala-gala
Bale Sigala-gala artinya bangunan yang diperindah dan dipercantik untuk mengelabui orang, sebuah gedung pertemuan yang besar, dimana seluruh material bangunannya menggunakan kayu sehingga mudah terbakar.

Singkat cerita, dalam sebuah perjamuan di Bale Sigala-gala untuk penyerahan kekuasaan Kerajaan Hastinapura kepada Pandawa, yang diwarnai dengan pesta pora, keluarga Pandawa yaitu Puntadewa, Harjuna, Nakula, Sadewa, dan Bima atau Werkudara serta Dewi Kunti, mendapatkan jamuan yang sangat istimewa. Keluarga Pandawa dijamu di tempat khusus dan dengan hidangan khusus yang super mewah. Akan tetapi, jamuan makanan dan minuman yang disuguhkan itu sudah ditiupkan japa mantera dengan tujuan agar setelah makan minum keluarga Pandawa diserang rasa kantuk yang luar biasa (disirep).

Rupa-rupanya, perlakuan Kurawa yang berlebihan itu membuat Bima curiga, sehingga Bimapun tidak terlena dan tidak larut dalam pesta pora. Bima tetap waspada dengan kondisi yang ada dan tetap terjaga.
Benar saja, setelah pesta pora berakhir, keluarga Pandawa terserang kantuk yang luar biasa sehingga merekapun tertidur dengan lelapnya.

Kurawa yang mengira bahwa seluruh anggota keluarga Pandawa sudah tertidur lelap, lantas sengaja membakar Bale Sigala-gala. Bima yang tetap terjaga, dengan sigapnya bisa menyelamatkan seluruh anggota keluarga Pandawa melalui sebuah goa yang ada di bawah bangunan Bale Sigala-gala.
Sehingga usaha Kurawa untuk melenyapkan keluarga Pandawa pun mengalami kegagalan.

Kegagalan itu membuat Patih Sengkuni semakin menggila. Dengan segala tipudayanya, keculasannya dan kelicikannya, Patih Sengkuni kembali berupaya untuk membunuh keluarga Pandawa. Kisah tersebut tergambar dalam cerita Babad Alas Wanamarta.

Untuk mewujudkan misinya melenyapkan keluarga Pandawa, kemudian Patih Sengkuni menghasut Raja Hastinapura, Prabu Destarata, untuk memberikan suatu daerah kepada Pandawa yang berupa Hutan atau Alas bernama Mertani, yang kemudian disebut sebagai Alas Wanamarta.

Dari siasat busuknya itu, Patih Sengkuni berharap bahwa Pandawa akan mati pada saat melakukan babad Alas Wanamarta karena hutan tersebut sangat angker dimana di dalam hutan itu terdapat kerajaan dari para jin.

Singkat kisah, Pandawa menerima pemberian wilayah Alas Wanamarta dari Prabu Destarata. Harjuna kemudian menuju Alas Wanamarta tapi di tengah perjalanan dihadang oleh Resi Wilawuk, sosok jin raksasa yang bisa berubah wujud menjadi seekor naga yang memiliki sepasang sayang yang besar dan lebar sehingga bisa terbang.

Kemudian Resi atau Begawan Wilawuk meminta Harjuna untuk ikut ke pertapaannya yaitu pertapaan Pringcendani.
Setibanya di pertapaan Pringcendani, Begawan Wilawuk memperkenalkan Harjuna dengan puterinya yang cantik jelita bernama Dewi Jimambang. Kedua insan itu lantas saling jatuh cinta, dan sang resipun menikahkannya.

Usai prosesi pernikahan, Resi Wilawuk memberi Arjuna sebuah cupu berisi minyak (lengo) Jayengkaton. Khasiat dari minyak Jayengkaton adalah manakala minyak tersebut dioleskan pada kedua mata, maka akan bisa melihat alam halus, dimana akan melihat segala jin dan kerajaannya. Bahkan Resi Wilawuk juga menghadiahi Harjuna berupa pusaka yang bernama Jalasutera kencana.

Setelah semua keperluannya selesai, Harjuna pun berpamitan untuk pergi ke Alas Wanamarta. Untuk mempercepat perjalanan ke Alas Wanamarta, Resi Wilawuk juga memberikan seekor Kuda Ciptawilaha dan cambuk Kyai Pamuk. Singkatnya Harjunapun kemudian berangkat dan sampai di Alas Wanamarta.

Perjuangan para Pandawa dalam babad Alas Wanarta bukanlah perjuangan yang ringan. Mereka harus menghadapi perlawanan dari para prajurit jin Alas Wanamarta yang pimpin oleh Yudistira, Dananjaya, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu, serta Danduwacana.

Sementara para Pandawa yaitu Bima, Nakula dan Sadewa saat babad Alas Wanamarta, pada awalnya mampu mengalahkan prajurit Jin.
Namun, saat menghadapi Dananjaya, mereka dapat dikalahkan karena dijerat dengan Jala Sutra Emas, dan merekapun dipenjara di Kerajaan Mertani.

Bima, Nakula, dan Sadewa akhirnya dapat dibebaskan oleh Harjuna. Untuk bisa melihat jin dan kerajaannya, Harjuna mengolesi mata Bima, Nakula, dan Sadewa dengan Minyak Jayengkaton pemberian dari Bagawan Wilawuk.
Berkat khasiat dari Minyak Jayengkaton, para Pandawa dapat membuka tabir rahasia Alas Wanamarta yang pada akhirnya prajurit dan kerajaan jin pun dapat ditaklukkan.

Danduwacana sendiri dikalahkan oleh Bima. Raganya pun menyatu dalam tubuh Bima setelah menyerahkan Negara Jodipati. Kemudian Harjuna mengalahkan Dananjaya dan menyerahkan Negara Madukara.
Demikian pula dengan Detya Sapuangin, karena dikalahkan oleh Harjuna, maka Detya Sapuangin menjelma menjadi ajian Harjuna. Oleh karenanya sejak saat itu, Harjuna dapat berlari secepat angin.

Di sisi lain, Detya Sapujagad dan Detya Sapulebu dikalahkan oleh Nakula dan Sadewa. Masing-masing pun menyerahkan Negara Sawojajar dan Bawenatalun.

Kerajaan Siluman Alas Wanamarta yang semula tidak terlihat, dan sejak ditaklukkan oleh Pandawa, kerajaan siluman itu dapat terlihat dengan pandangan mata biasa.

Sementara itu, Prabu Yudhistira sendiri ‘manunggal’ dalam tubuh Puntadewa. Puntadewa kemudian mengubah namanya menjadi Yudisthira setelah menjadi raja di Kerajaan Indraprasta, yang kemudian dirubah namanya menjadi Kerajaan Amarta. Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada Yudisthira, salah satu sosok jin penguasa Alas Wanamarta, yang telah memberinya kerajaan dan istana. (*17).

  • Share
Exit mobile version