Kemarahan Risma Dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

  • Share

KENDAL, MEDGO.ID – Tri Rismaharini, sang Menteri Sosial RI, dalam beberapa hari ini menjadi trending topik nasional.
Hal tersebut berawal dari sebuah kejadian dimana pada saat Menteri Sosial itu mengadakan kunjungan kerja ke Provinsi Gorontalo pada Kamis (30/9/2021), memarahi seorang pendamping PKH di Gorontalo.

Ternyata kejadian tersebut direkam oleh seseorang, yang kemudian disebarkan luaskan melalui layanan pesan WhatsApp dan menimbulkan serta memunculkan berbagai pendapat dan polemik.

\

Dikutip dari Medgo.id Gorontalo, Minggu (3/10/2021), Funco Tanipu, seorang Mahasiswa Program Doktoral Universitas Hassanudin Makassar, mengupas perilaku “marah” dari Tri Rismaharini dan bagaimana orang Gorontalo memandang perilaku marah dalam perspektif antropologi.

Funco Tanipu berpendapat bahwa kemarahan dari Risma, bukanlah sesuatu yang spontan atau terjadi begitu saja tanpa sebab.

“Rangkaian peristiwa dan kejadian serta latar belakang kultural Risma itu sendiri yang menjadi penyebab kemarahannya”, kata Funco.

Lebih jauh Funco mengatakan, dalam perspektif antropologi Gorontalo, marahnya Risma itu bertingkat-tingkat, dimana Risma adalah seseorang yang “moyingowa” atau “pemarah” jika melihat ketidakbenaran atau kebatilan.
Menurut Funco, Risma juga “mopatuwa”, yang artinya perangainya mudah panas atau mudah marah, apalagi jika melihat banyak ketidakberesan aparat dalam pelayanan publik.

Funco Tanipu, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Hassanudin Makassar. (Dok. foto:medgo).

“Banyak rekaman kejadian yang bisa kita tonton soal perangai Risma, baik pada saat dirinya menjadi Walikota Surabaya maupun saat dia menjabat sebagai Menteri Sosial”, tandas Funco.

Lebih lanjut Funco menjelaskan bahwa dua “dasar” ini menjadi “kaki” atas perangai Risma dalam pemerintahan.
Dalam konteks antropologi Gorontalo, tambah Funco, karena banyaknya perulangan kejadian yang tidak beres atas tata kelola pemerintahan, maka hal inilah yang membuat, membentuk dan menjadi “tahu-tahu” atau sudah tersimpan dalam memori dan nurani.

“Di Gorontalo, jika marah sudah dalam tingkat “tahu-tahu” maka dengan trigger apapun, khususnya melihat ketidakberesan yang berulang, akan segera “naik” dan pada ujungnya pendamping PKH “tilu-tilunggoiyo” alias ditunjuk-tunjuk. Molu-molunggo’o adalah ekspresi marah dalam kaidah Gorontalo. Ekspresi dari pendamping adalah “le hulo’o” atau terduduk”, tutur Funco.

Jadi, apa yang Risma ekspresikan, imbuh Funco, sebenarnya ada dalam kultur keseharian orang Gorontalo. Bahkan dalam kemarahan orang Gorontalo yang lain, jima sudah “tahu-tahu” marah, maka ada beberapa yang akan “anu-anungo” atau menyelipkan pisau atau parang di balik baju untuk membalas atau mengekspresikan kemarahannya.

“Menurut saya, kemarahan Risma masuk juga dalam varian marahnya orang Gorontalo yakni “lombu-lombula nyawa” artinya itu berarti kiasan seperti merebus air yang mendidih. Dalam arti lain, marahnya Risma sudah berada “mato yimbupulu” atau sudah berada di ubun-ubun”, papar Funco.

Marah, lanjut Funco, dalam perspektif orang Gorontalo sangat beragam. Mulai dari yingo, moyingowa, yingo ma’o-yingo ma’o, yiyingowa, mayile yingo dan banyak ragam ekspresi lainnya.

Funco menambahkan, ada ekspresi lanjutan dengan sabar dan menyerahkan ke Allah dengan “mapilooyonga liyo” dan ada yang “maletahu yingo” artinya marahnya disimpan, yang sewaktu-waktu bisa meledak, dan Risma masuk dalam kategori kedua yaitu maletahu yingo.

“Pertanyaannya, apakah marah adalah keburukan atau tidak? Dalam konteks antropologi Gorontalo, marah dengan segala variannya adalah bagian dari kearifan lokal. Kenapa bisa disebut arif? Karena marah adalah untuk meluruskan yang tidak beres, ada ketidakbecusan dalam mengelola sesuatu”, tegas Funco.

Funco juga memaparkan, di konteks Gorontalo, seorang pemimpin atau disebut “wuleya lo lipu” harus punya sifat marah. Karena sesuai janji adatnya, “huta, huta lo ito Eeya” (tanah, tanah milik Allah), “taluhu, taluhu lo ito Eeya” (air, air milik Allah), “dupoto, dupoto lo ito Eeya” (angin, angin milik Allah), “tulu-tulu lo ito Eeya” (api, api milik Allah).

Dalam konteks itu, lanjutnya, seorang pemimpin sebagai “wakil” wajib menjaga alam dan segala apa yang ada kaitannya dengan sepenuh hati. Marah adalah salah satu sifat untuk menegakkan kebenaran.

“Itu termaktub dalam kalimat adati hulo-hulo’a to Syara’a, Syara’a hulo-hulo’a to Quruani (adat bersendikan syara’, syara bersendikan Qur’an). Artinya, ada ruang dan kewajiban menegakkan amal ma’ruf dan nahi munkar”, kata Funco.

Funco, dalam nada tanya, apakah perilaku marahnya Risma itu bisa menyelesaikan sesuatu atau membuat tata kelola pemerintahan menjadi lebih baik?

Menurutnya, Risma telah mencontohkan kebiasaan marahnya, dimana hal itu telah membuat Surabaya meraih 322 penghargaan baik nasional maupun internasional.

“Di level internasional, Risma mendapatkan penghargaan sebagai Walikota Terbaik Dunia dari citymayors.com. Risma juga dianugerahi walikota ketiga terbaik dunia dari World Mayor Project hingga ia menjadi tokoh urutan ke 24 dari 50 tokoh dunia versi Fortune. Di kawasan Asean, Risma pernah menjadi Ketua Asean Mayors Forum, yang saya menjadi saksi bagaimana Risma bisa menjadi pusat perhatian saat Asean Mayors Forum di Bangkok tahun 2019 silam”, tandas Funco.

Maksud dari tulisan ini, papar Funco, adalah untuk menjernihkan persoalan, bahwa marahnya Risma tidak bisa dilihat dari satu perspektif, akan tapi multi perspektif.

“Memang banyak yang menginginkan, seharusnya Risma sebagai pemimpin memiliki sifat “toliango” atau kasih sayang. Tapi, makna dari toliango tidak bisa ditafsirkan satu jenis saja yakni sayang saja, karena marahpun adalah bagian dari toliango”, kata Funco.

Funco juga meminta kita untuk memperhatikan orang tua kita, yang sering marah pada kita. Menurutnya, hal itu bukan “yingo” tapi “toliango”. Jadi “toliango” harus didudukkan secara lebih proporsional.

“Jadi, yingo dan toliango dalam konteks Gorontalo adalah sesuatu yang melekat dan terpadu satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan. Karena bisa saja, misalnya jika kita lihat pada kakek dan nenek kita yang begitu sayang pada cucunya dengan cara “hepopohidiyo liyo” maka banyak contoh jika anak tersebut kelak akan jadi “jamodungohe” dan bahkan “kapala angi” dalam konteks negatif. Karena kasih sayang yang berlebihan”, jelas Funco.

Sebagai penutup, lanjut Funco, saya mengajak agar kita lebih proporsional dalam melihat peristiwa yang terjadi. Dalam kasus marahnya Risma, problem utama yang sebenarnya bukan soal marah, tapi pada soal ketidakberesan manajemen data yang memang amburadul.

“Jika dalam beberapa waktu ke depan misalnya hal ini tetap tidak beres dan tidak ada perubahan, maka Risma bisa saja kita sematkan “yingo ma’o-yingo ma’o” atau “moyingo jato tambati liyo”. Sebab, dia juga bertanggung jawab sepenuhnya atas manajemen data yang buruk, walaupun ia mewarisi hal yang buruk itu saat ia baru beberapa bulan masuk ke lingkungan kementrian yang ia pimpin, maka dia harus menunjukkan efekifitas marah yang ia terapkan saat di Surabaya lalu”, pungkas Funco. (*).
Peawarta: Adang.

 

 

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *