Keelokan Curug Pring Recommended Bagi Traveler Sejati

  • Share

Kendal, medgo.id – Desa Cening adalah sebuah desa di Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, merupakan desa yang terletak di wilayah pegunungan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung. Karena terletak di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (Mdpl), maka sudah tentu udaranya sangat sejuk.

Sebagian besar penduduk Desa Cening berprofesi sebagai petani dengan komoditas pertanian utamanya berupa jagung, pisang dan kopi.

Desa Cening berjarak 43 km dari pusat kota Kendal, 18 km dari Kota Kecamatan Boja, 15 km dari kota Kecamatan Singorojo, dan 16 km dari kota Kecamatan Limbangan, serta 46 km dari kota Semarang dan 26 km dari destinasi wisata Bandungan.

Selain sebagai daerah pertanian ternyata Desa Cening juga memiliki potensi alam yang luar biasa yang bisa dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dimana keindahan alamnya yang sangat menakjubkan dan memanjakan mata, yang tidak kalah eloknya dengan daerah lain.

Di Desa Cening terdapat dua buah air terjun atau curug yaitu Curug Glawe dan Curug Pring, dimana kedua curug tersebut kini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cening yang diketuai oleh Ngatno.
Kedua curug tersebut berada dalam satu aliran sungai yaitu Sungai atau Kali Ereng, akan tetapi dengan karakteristik yang berbeda.


Di areal Curug Pring ada beberapa curug kecil yaitu di bagian atas sebelum Curug Pring, ada dua curug kecil, dan di bagian bawah setelah Curug Pring ada dua hingga tiga curug kecil.

Terkait dengan asal usul nama Curug Pring, Sekretaris Desa (Sekdes) Cening, Muhartono, Senin (8/8/2022), menuturkan bahwa mengapa diberi nama Curug Pring, yaitu karena pada waktu itu di sisi kiri dan kanannya banyak sekali ditumbuhi oleh berbagai macam jenis tanaman bambu (Jawa: Pring) seperti bambu Wulung, Petung, Ampel, Apus, dan lain-lain.

“Itulah latar belakang atau sejarah mengapa curug itu kemudian dinamakan sebagai Curug Pring. Namun saat ini rumpun bambunya sudah berkurang akibat tebing sungai tergerus erosi dan longsor sehingga rumpun bambunya pada roboh dan terpaksa ditebang”, kata Sekdes.

Sementara itu, Kepala Desa Cening, Budi Raharjo, menyampaikan bahwa pengelolaan Curug Cening sepenuhnya dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cening yang di Ketuai oleh Ngatno.

“Curug Pring sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam. Akan tetapi untuk pengelolaan, penataan dan pengembangannya, kami mengalami kendala. Disamping dana, kita juga terbatas dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Saya berharap Pemerintah Kabupaten Kendal dan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kendal, bisa memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan Curug Pring”, kata Budi.

Jika wisata Curug Pring ini bisa maju dan berkembang, lanjut Budi, tentu akan mampu memberikan andil yang sangat besar terhadap peningkatan kesejahteraan warga Desa Cening.

Ketua Pokdarwis Desa Cening, Ngatno, memaparkan bahwa untuk mengelola dan membangun sarana prasarana di areal Curug Pring, dilakukan dengan cara gotong-royong baik biaya maupun pengerjaannya.

Menurut Ngatno, untuk membersihkan areal yang ada dilakukan kerja bakti dua kali dalam satu minggu, dan untuk biaya pembangunan sarana prasarana seperti MCK, gashibu, mushola, dan lain-lainnya, dilakukan secara patungan oleh para pengurus dan anggota Pokdarwis.

“Hingga bulan Agustus 2022 ini, untuk membangun sarana prasaranan tersebut, kita telah menghabiskan anggaran sebesar Rp. 20 juta”, tandas Ngatno. (*17).

  • Share
Exit mobile version