Kecamatan Limbangan: Semar mBangun Kayangan Sambut HUT RI Ke-77

  • Share

Kendal, medgo.id – Kemeriahan dan kesemarakan dalam menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, setelah dua tahun lamanya nuansa itu hilang, akan kembali dirasakan oleh rakyat di seluruh Nasantara.

Seperti yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dimana berbagai macam kegiatan telah dipersiapkan untuk mewarnai perayaan Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77.

Camat Limbangan, Alfebian Yolando, saat ditemui di kantornya, Rabu (3/8/2022) siang, mengatakan bahwa Pemerintah Kecamatan Limbangan telah melakukan persiapan untuk menggelar berbagai event dalam menyambut hari yang sangat bersejarah dalam perjalanan Bangsa Indonesia.

“Untuk menyambut dan menyemarakkan HUT RI Ke-77, kita telah mempersiapkan beberapa event dari event olahraga hingga pentas seni budaya”, kata Febi, demikian Camat Limbangan ini akrab disapa.

Febi mengatakan bahwa kegiatan akan dilakukan pada tanggal 6, 12, 14, 18, dan 20 Agustus 2022. Yang pertama pada 6 Agustus 2022 pagi lomba gerak jalan SD, SMP dan SMA start finish di halaman Kecamatan Limbangan. Kemudian tanggal 12 Agustus 2022 pagi, berupa jalan sehat dimana start dan finishnya di halaman kantor Kecamatan Limbangan.

“Kemudian tanggal 14 Agustus ada pertandingan bola volley di lapangan olahraga SMPN 1 Limbangan, tanggal 18 Agustus lomba karnaval TK/PAUD, SD, SMP, SMA, dan Umum”, tutur Febi.

Selanjutnya, imbuh Febi, pada tanggal 20 Agustus 2022 pagi, ada pentas seni budaya kuda lumping dan pada malam harinya ada pagelaran wayang kulit semalam suntuk, dengan lakon Semar mBangun Kayangan, yang dipentaskan oleh dalang Ki Tri Agus Setiawan dan Ki Gondo Saputro.

Ketika ditanya mengapa pentas wayang kulitnya memilih lakon Semar mBangun Kayangan, Febi menjawab bahwa sekalipun itu hanya sebuah cerita wayang kulit namun makna yang tersirat di dalamnya sangat perlu untuk kita renungkan.

“Banyak hal yang bisa kita teladani dari cerita Semar mBangun Kayangan, dan sosok seorang Semar. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, tetapi keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna. Dia adalah Sang Pamomong”, tandas Febi.

Digelarnya pentas seni budaya kuda lumping dan wayang kulit tersebut, pungkas Febi, selain sebagai sarana hiburan juga dengan maksud untuk melestarikan budaya asli yang adi luhung di tengah-tengah gempuran budaya asing yang semakin meraja-lela.

Yang Tersirat Dari Cerita Semar mBangun Kayangan
Lakon Semar mBangun Kayangan bukanlah cerita pakem yang bersumber dari babad Ramayana, Mahabharata, dan Bharatayuda, akan tapi hanya sebuah cerita carangan yaitu cerita yang bersumber dari gubahan murni seorang dalang.

Ada beberapa cerita carangan dalam dunia pewayangan diantaranya adalah Petruk Dadi Ratu, Semar mBangun Kayangan, Togog Mantu, Werkudoro Kembar Papat, dan lain-lain.

Lakon Semar Bangun Kayangan menyiratkan makna yang sangat dalam dan luhur. Di dalamnya menguraikan tentang makna ilmu sangkan paraning dumadi yang berarti asal-muasal dan tujuan hidup, jumbuhing kawula-Gusti yang bermakna penyelarasan antara tindakan hamba dengan kehendak Tuhan, manunggaling kawula-Gusti diartikan sebagai bersatunya antara hamba dengan Tuhan, dan kasampurnaning dumadi atau kesempurnaan hidup. (*17).

  • Share
Exit mobile version