Hama Uret Serang Puluhan Hektar Tanaman Singkong Di Jatinom

  • Share

Klaten, medgo.id – Bekerjasama dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHP), Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP), dan Bapeltan, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Tengah, dalam upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), memberikan bimbingan dan pelatihan pemberantasan terhadap hama uret kepada masyarakat Desa Beteng, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Senin (1/8/2022), di aula Balai Desa Beteng.

Dilakukannya pelatihan tersebut didasarkan atas fakta bahwa di wilayah Desa Beteng banyak petani yang mengalami gagal panen karena tanaman singkongnya diserang hama Uret.

\

Uret adalah larva dari serangga ampal (Lepidiota Stigma F) yang bersarang di dalam tanah dan memakan akar tanaman sehingga tanaman singkong layu dan mati.

Ketua Kelompok Tani Eka Gatra, Dukuh Gatak, Desa Beteng, Wahono, mengungkapkan bahwa sudah dua tahun lebih hama uret telah menyerang tanaman singkong milik para petani yang luasnya puluhan hektar sehingga mengalami gagal panen.


“Saya menanam singkong di lahan seluas satu hektar, pada umur 9-10 bulan diserang hama uret. Daunnya menguning dan layu sehingga gagal panen. “, kata Wahono.

Kalau tidak terserang hama uret, terang Wahono, dalam satu hektar bisa menghasilkan singkong sebanyak 20 hingga 25 ton.

“Karena gagal panen, banyak warga Desa Beteng yang harus bekerja sebagai penambang pasir tradisional atau menjadi kuli bangunan untuk mendapatkan penghasilan”, tandas Wahono.

Di Desa Beteng, ada sekitar 40 persen dari 900 Kepala Keluarga (KK), berada di garis kemiskinan hal ini ditandai dengan minimnya pendapatan yang diperoleh. Dengan adanya pelatihan ini saya berharap kelompok tani bisa segera menindaklanjuti, sehingga ekonomi warga bisa kembali terdongkrak”, pungkas Wahino.

Sementara itu, Kepala BPTPHP Jawa Tengah, Herawati Prarastyani, mengatakan bahwa ada dua cara yang diberikan dalam pelatihan pemberantasan hama uret yaitu pemberantasan hama uret dengan penggunaan insektisida hayati berupa jamur metharhizium, dan penggunaan insektisida kimia yang mengandung karbofuran.

“Jamur metarhizium yang dikembangkan oleh LPHP, jika ditaburkan pada media tanam (tanah) akan menginfeksi Uret sehingga Uret akan mati. Jika sudah mati, Uret tersebut pun bisa digunakan kembali untuk memupuk media tanam lain”, kata Herawati.

Herawati menguraikan bahwa solusi pemberantasan hama Uret dilakukan dengan bahan yang ramah lingkungan berupa insektisida hayati dengan penggunaan jamur metharhizium.

“Tapi karena serangan hama Uret yang ditemukan di lapangan sudah berada di stadium 4, maka kita menggunakan bahan insektisida kimia”, tandas Herawat.

Menurut Herawati, banyaknya hama Uret disebabkan oleh penggunaan pupuk kandang yang masih mentah, dan juga harus dilakukan perbaikan ekosistem.

“Perbaikan ekosistem dapat dilakukan dengan cara memperbanyak musuh alami uret, seperti orong-orong (Gryllotalpidae). Selain itu penanaman refugia dan pengurangan penggunaan pupuk urea, serta penerapan tanam serempak dalam satu musim dan pergiliran jenis tanaman”, terang Herawati.

Sementara itu, Kepala Diskominfo Jawa Tengah, Riena Retnaningrum, dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekretaris Dinas Diskominfo, Hermoyo, mengatakan bahwa desa dampingan adalah wujud nyata pemberantasan kemiskinan. Hal Ini sesuai dengan visi dan misi pemerintahan Ganjar-Yasin untuk menekan kemiskinan.

“Sebelumnya telah kita lakukan di Desa Kangkung, Demak, pada 2019, dan Desa Masaran, Sragen. Harapannya adalah kesejahteraan masyarakat akan meningkat”, ujarnya. (*17).

banner 336x280
banner 120x600
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *