Brebes Tidak Hanya Punya Bawang Merah dan Telur Asin

  • Share

Brebes, medgo.id – Kabupaten Brebes adalah salah kabupaten Provinsi Jawa Tengah. Disebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, di timur berbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, di selatan berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Oleh karenanya Kabupaten Brebes memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Kabupaten Brebes luas wilayahnya mencapai 1.769,62 km², paling luas di Jawa Tengah ke-2 setelah Kabupaten Cilacap. Jumlah penduduknya berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2020 berjumlah 1.978.759 jiwa, sebagai Kabupaten dengan jumlah penduduk paling banyak di Jawa Tengah.

Penduduk Kabupaten Brebes yang tinggal di perbatasan wilayah Provinsi Jawa Barat, dalam kesehariannya menggunakan dua bahasa daerah yaitu Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa Ngapak.

Seperti yang ada di Kecamatan Bantarkawung. Penduduk Kecamatan Bantarkawung dalam kesehariannya menggunakan dua bahasa daerah yaitu bahasa Sunda dan bahasa Jawa Ngapak.
Salah satunya adalah penduduk Desa Pangarasan, dimana dalam kesehariannya warga Desa Pangarasan tersebut menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Jawa Ngapak.

Tentunya ini adalah sebuah kekayaan dan keragaman serta keunikan yang memiliki daya tarik luar biasa dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah daerah tujuan wisata atau destinasi wisata kultural.

Selain hal luar biasa tersebut, Kabupaten Brebes juga sangat kaya dengan pesona alam pegunungan serta peninggalan purbakala yang tiada bandingnya.

Di Desa Galuhtimur ditemukan candi kuno dan fosil manusia purba Homo Erectus Arkaik
Desa Galuhtimur Adalah salah satu desa di Kabupaten Brebes yang masuk di wilayah Kecamatan Tonjong. Pada tahun 2019 lalu, di Desa Galuhtimur tepatnya di Dusun Kalipucung, telah ditemukan sebuah candi kuno, dimana oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta dinilai sebagai temuan yang istimewa sebab bangunan candi kuno, tempat pemujaan dan sumur tersebut diperkirakan dibangun sebelum masa hindu.

Hal tersebut diperkuat dengan banyak ditemukannya material berupa batu, batu bata, dan patung penjaga, serta 12 buah umpak. Material tersebut merupakan bagian dari candi berukuran 12 x 12 meter persegi yang menghadap ke arah timur.


Sekarang lokasi penemuan candi tersebut sudah mulai ramai dikunjungi oleh warga sekitar serta pendatang dari daerah yang penasaran ingin melihat temuan candi tersebut.
Bangunan candi yang awalnya ditemukan oleh warga Desa Galuhtimur tersebut akan diteliti lebih lanjut oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Selain penemuan candi, pada tahun 2017 lalu, tepatnya di aliran Sungai Cisaat, juga telah ditemukan bagian fosil dari manusia purba Homo Erectus Arkaik yang berupa batok kepala, tulang rahang dan akar gigi, dimana oleh para peneliti kepurbakalaan diperkirakan berusia 1,5 juta tahun, lebih tua dari Homo Erectus yang ada di Sangiran, Kabupaten Sragen.

Didit Hadi Barianto, Peneliti dari UGM Yogyakarta, bahwa Situs Bumiayu-Tonjong (Buton) meliputi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bumiayu, Tonjong dan Bantarkawung. Cakupan kawasannya meliputi enam sungai diantaranya Sungai Pemali, Sungai Glagah, Sungai Bodas, Sungai Cisaat dan Sungai Gintung.

Menurut Didit Hadi Barianto, Situs Buton sangat layak dijadikan sebagai geopark mengingat ditemukannya homo erectus Arkaik yang kelasnya mendunia, karena Homo Erectus baru ditemukan di lima negara, dan salah satunya berada di Bumiayu dan Tonjong. (*17).

 

  • Share
Exit mobile version